Hobby

All about Books

Hallo fellas, I`m back !

Setelah berkutat dengan kehidupan perkuliahan dan organisasi yang sangat menyita waktu #soksibuk dan sekarang mulai luang karena tinggal menyelesaikan skripsi, saya pun rindu nulis lagi di sini. So, here I`m again, yang ingin bercerita tentang kesibukan di waktu luang saat masa-masa dan sekarang masih jadi mahasiswa dan anak kost.

Kehidupan sehari-hari para mahasiswa dan anak kostan ya gak jauh-jauh dari kampus, kostan, dan tempat makan (iya gak? :D). Terkecuali buat para aktivis kampus, maka kehidupannya bertambah satu yaitu sekre (sekretariat UKM, himpunan, komunitas, dll). Jadwal kuliah mahasiswa tingkat awal dan menengah cukup padat. Kuliah pagi sampai mungkin sore di kampus, lanjut mengerjakan tugas (individu atau kelompok) dll. Tapi ada juga yang sampai malam di kampus, entah ituย  untuk kuliah atau nge-lab, rapat organisasi, atau sekedar memanfaatkan fasilitas kampus (red.wi fi) untuk berbagai kepentingan.

Terus saya gimana?

Saya sih, hanya sekedar mahasiswa biasa yang mencoba untuk menyibukkan diri. So, aktivitasnya ya kampus, sekre, dan kostan (sesekali tempat makan, itu pun sekalian rapat, haha). Aktivitas sehari-hari memang banyak dihabiskan di kampus, alhasil kostan benar-benar dijadikan tempat istirahat dan personal activity lainnya. Dulu banget sih waktu masih jaman-jamannya jadi anak sekolahan dan tinggal di rumah, aktivitas sehari-hari kalau pulang sekolah dan ada luang ya nonton tv sampe bosen, makanya dulu kalau ditanya hobinya apa, jawabnya pasti nonton tv, saking cuma nonton tv yang paling sering dilakukan. Nah gimana sekarang pas udah jadi mahasiswa? berhubung luas tempat kost terbatas dengan fasilitas yang terbatas juga (red. gak ada tv), kebiasaan nonton tv menjadi hilang. Akhirnya saya pun mencari kesenangan lain untuk melepas penat saat ada di kostan, dan aktivitas itu adalah membaca buku (gaya banget ya, but fyi ini buku yang dibicarakan di sini adalah sejenis novel atau buku-buku non text book kuliah ya :p).

20150210_185647

Beberapa buku terbitan Bentang Pustaka, penerbit yang paling banyak ada di rak.

 

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang suka baca buku (dulu), males aja gitu kalau lama-lama di depan buku, mending lama-lama depan tv, iya gak? pas jaman SD dibeliin majalah bobo sama ayah pun, saya lebih seneng liat gambarnya daripada tulisannya, hehe. Nah kebiasaan baca buku ini memang muncul saat SMP, walaupun buku yang dibaca sekedar teenlit dan novel-novel remaja ababil yang masih tipis-tipis (kebanyakan pinjem punya temen), tapi lumayan lah untuk sekedar melepas penat dan membiasakan diri untuk suka membaca. Lanjut saat SMA, bacaannya mulai agak berat (karena halaman bukunya nambah, walaupun yang dibaca masih novel sih :p) tapi masih jarang juga karena lebih tergoda sama nonton tv. Sampai akhirnya pas kuliah, dan gak ada tv, hasrat untuk membaca buku muncul kembali, apalagi waktu itu saya sempet membuat list buku yang pernah dibaca dan buku apa aja yang dimiliki. Mau tau hasilnya? dan hasilnya adalah kurang dari 50 buku yang pernah dibaca, dan kurang dari 20 buku dimiliki. Sedih banget gitu (pantesan pengetahuannya segini-gini aja). So, dari situlah saya bertekad untuk mulai menyisihkan uang bulanan untuk beli buku dan membacanya. Kenapa harus beli buku dan gak minjem aja? jawabannya adalah ya buat koleksi, kalau misal sewaktu-waktu mau dibaca lagi kan gampang gak perlu pinjem orang lain atau kena deadline pengembalian, terus keren aja kalau di rumah ada rak khusus buku gitu kayak di perpustakaan, hehe tapi ini serius, saya suka sama rumah yang banyak bukunya. Buku itu juga nanti bisa diturunkan ke adik, saudara, atau bahkan anak cucu kita nanti.

Awal yang bikin ketagihan banget untuk baca buku dan beli buku per bulan adalah ketika baca The Naked Traveler 3 nya Trinity. Waktu itu saya iseng baca punya temen, terus ketagihan sampe akhirnya nyari series pertama dan selanjutnya. Alasannya simple aja sih, buku itu sangat informatif tapi tidak terkesan menggurui, gara-gara buku itu saya jadi makin ngiler pengen keliling dunia dan mulai suka tulisan Trinity di buku yang lain. Ya, dari situ saya mulai mengumpulkan buku-buku bacaan yang lain sambil nunggu buku barunya Trinity terbit.

Nah, alhamdulillah semenjak kelas 12 akhir sampai sekarang, koleksi buku saya sudah cukup lumayan ๐Ÿ™‚ kebanyakan memang buku-buku dalam negeri. Buku-buku ini ada yang memang dibeli, ada juga yang dikasih. Pokonya tiap bulan harus ada buku yang nambah di rak ๐Ÿ˜€

12688022_10205922200433685_5931209499107864660_n

Buku-bukuย  pemberian. Beberapa sengaja dikasih karena tahu saya suka baca, sebagian saya yang request ๐Ÿ˜€

 

943040_10201361626822195_826772674_n

Bacaan saat liburan dua tahun yang lalu

 

1620479_10201889893468531_2010999874_n

Salah satu buku favorit, sudah ditanda-tangani semuanya oleh penulisnya langsung

 

Bagi saya, baca buku itu punya keasyikan tersendiri. Selain memang nambah wawasan dan kosa kata baru (even itu cuma novel bahkan teenlit), baca buku juga bisa mempertajam daya imajinasi (gaya banget ya ๐Ÿ˜€ ) bahkan suka jadi berkhayal, haha. Imajinasi ketika baca ya macem-macem, dari mulai wajah tokoh, setting tempat dan waktu, sampai adegan tokoh. Misalnya di Buku TNT pas Trinity nyeritain riset kecil-kecilanya soal cowok dan cewek tercantik di dunia, saya jadi ngebayangin gimana gantengnya cowok-cowok Itali, Brazil, dan Arab, haha. Sedangkan kalau baca novel, selain ngebayangin dan jalan-jalan ke ‘dunia lain’, saya juga suka jadi kebawa suasana. Misalnya pas baca buku divortiare dan twivortiarenya Ika Natassa, bener-bener ikut kebawa kesel deh. Selain itu, novel Negeri Van Oranje juga berhasil bikin sayaย  makin ngebet pengen kuliah di Belanda ๐Ÿ˜€

Sisi lain dari baca buku khususnya novel yang kadang bikin kesel adalah kalau novel yang udah dibaca terus difilmkan dan alurnya beda. Misalnya kayak film Ayat-ayat Cinta, itu melencengnya jauh banget (alur cerita, penggambaran tokoh, setting tempat dan waktu), saya jadi kesel dan uring-uringan sendiri pas nonton. Beberapa sih ada yang cukup sesuai, ketika dibaca, saya imajinasikan, dan ditampilkan di film. Misalnya film Ketika Cinta Bertasbih 1&2, Hafalan Surat Delisa, dan Laskar Pelangi (lebih detail novelnya memang, tapi alur dan inti cerita novel tidak berubah).

Mostly saya baca buku kalau memang lagi senggang, tapi kadang saya lakukan kalau menjelang tidur, apalagi kalau lagi susah tidur. Cara ini dipakai karena biasanya kalau baca buku sebelum tidur, hawanya suka jadi ngantuk, so dipilihlah buku-buku yang seru-seru, biar kebawa mimpi indah :p

Baca buku juga dilakukan beberapa menit sebelum baca text book kuliah atau materi ujian. Sugesti saya sih kalau baca novel dulu or bacaan ringan lainnya, biasanya bisa bikin seneng dan membiasakan kita untuk lama-lama liat tulisan sehingga pas baca materi kuliah gak jetlag, hehe (ini semacam classical conditioning versi saya sih. Cara yang saya lakukan ini memang belum valid, but it`s work for me, haha).

Bagaikan koin yang memiliki dua sisi yang berbeda, serta hal-hal yang diciptakan berpasangan, untuk saling melengkapi, seperti siang-malam, hitam-putih, laki-laki-perempuan dst, begitupun dengan kesenangan saya ini. Hobi baca buku, selain membawa efek positif, ternyata ada efek negatifnya. Salah satunya adalah lupa waktu akibat keasyikan baca saking penasaran dengan jalan cerita dalam buku, sehingga terkadang jadi lupa ngerjain tugas. And another side effect is nyesek kalau pergi ke toko buku, liat buku-buku bagus tapi kantong lagi cekak ๐Ÿ˜ฆ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s